Sabtu, 15 Januari 2011
Hari itu saya daftar paket 1000 SMS pada handphone kodok saya. Saya sengaja mendaftar paket 1000 SMS karena saat itu saya lagi ada keperluan SMS banyak pada teman-teman saya. Tiba-tiba saya terpikir untuk SMS dia, sebut aja Bumi namanya. Bumi teman semasa SMA saya di Sidoarjo. Saya berniat SMS dia karena untuk memastikan janji untuk jalan-jalan bareng dalam rangka menghibur teman saya, Bulan. Bulan adalah teman saya yang hampir satu bulan, ayahnya telah menghadap sang Khalid. Saya kirim SMS pertama saya ke Bumi. “Jadi kan buat jalan-jalan bareng ma Bulan ?” Selang beberapa menit Bumi membalas SMS saya. “Aku ngga janji, mendingan kamu saja yang pergi ma Bulan, kan lebih enak kalau cewe sama cewe”. Saya balas SMS nya, “Oh yauda berarti cuma aku ma Bulan. Lagian aku juga kangen ma Bulan, uda lama ngga pernah ketemu ma dia.” Kemudian saya mencoba untuk mebuka topik bahasan baru. Saya mencoba untuk menanyakan kembali omongan dia ketika kami masih kelas 2 SMA. Ketika kelas 2 SMA saya mengalami konflik dengan sahabat saya. Saat itu menjelang hari ulang tahun saya ke-17. Saya mengatakan, “Yah,,, ulang tahun saya yang ke-17 tahun, terancam ngga bakalan dapat boneka sapi”. Karena hanya orang tua dan sahabat saya yang sedang konflik yang memberi kado berupa boneka sapi untuk saya. Entah itu hanya bercanda atau serius, Bumi berkata “Tenang aja, ntar saat kamu ulang tahun yang ke-17 ada boneka sapi besar untuk kamu dari aku”. Saya menanggapi hanya bercandaan sambil berharap juga. Siapa tau apa yang dikatakan Bumi serius. Tapi sayangnya, yang dikatakan dahulu hanya bercandaan. Dia tidak memberi kado untuk saya apalagi boneka sapi besar untuk saya. Bumi aku boleh nagih janji ma kamu ga ? Dia bertanya, Emang janji yang mana ? Aku emang pernah janji ma kamu ? Dengan detail saya bercerita panjang lebar lewat SMS. Dia hanya menjawab, Emang aku pernah ngomong kaya begitu. Dalam hati saya jengkel tapi tidak juga menyalahkannya. Wajar kalu dia lupa. Toh itu kejadian beberapa tahun lalu. Saya hanya menjawab, kayaknya aku salah dengar saat itu, mungkin saat itu suaranya setan. Dia menjawab, iya setannya aku ya ? Saya menjawab, terserah deh kamu ngomong apa, kamu itu buka setan tapi dajjal. Dia menjawab, kalau aku jadi dajjal orang yang pertama kali aku takutin adalah kamu. Aku menjawab, Takutin aja, ada pangeran yang bakalan ngelindungi aku. Hahahaahh.
Kemudian topik kita berganti. Membahas inilah, itulah, sampai ngelantur ke mana. Kemudian SMS kami terhenti agak lama. Kemudian saya menyambung kembali SMS kembali. Gi mana perpusdanya ? Uda jadi belum ? Baru beberapa detik, ada SMS masuk dari dia. Cepet banget balas SMS nya, batin saya. Setelah saya buka, saya begitu bingung, kaget, syok, apa maksudnya dari SMS ini. SMS yang ternyata bukan balasan dari SMS saya sebelumnya. Sepertinya, ketika saya mengetik SMS masalah perpusda, dia juga sedang mengetik SMS. Seperti ini SMS nya :
“Suatu saat dia, akan tau. Siapa yang kalah, siapa yang menang. Siapa yang berhak benar dan siapa yang dipersalahkan. Suatu saat dia akan benar2 tau ketika semuanya telah terlambat, aku bukan lagi urusannya, dan dia bukan lagi urusanku. Dan suatu saat dia akan mengalami kesepian saat ditinggal pergi. Suatu saat. . .”
Otak saya berpikir keras untuk mencerna SMS darinya. Kemudian saya menjawab, maksudnya apa ? SMS nya buat *** ? Dia menjawab, aku paling ngga suka kamu ngungkit dia lagi. Saya menjawab, Emang SMS nya buat sapa ? Kamu kirim ke siapa saja selain aku ? Dia hanya menjawab “Itu ungkapan hatiku. Untuk siapa aja. To every one, that ever hurt me even just a little bit”. Saya menjawab dengan rasa kebingungan yang tak berujung, berarti aku pernah menyakitimu. Maafkan aku kalau aku pernah nyakitin kamu, dengan memberi emotion :D. Dia menjawab , “I just want you to know. . . What makes my heart fells like that. Deep inside. Kalau kamu nyakitin aku udah biasa ko. Hahaha. Becanda”
Saya semakin bingung dibuat oleh SMS Bumi. Semakin saya banyak mengulang membaca SMS darinya. Otak saya berpikir dan berkelana ke mana-mana, kembali ke masa lalu, ungkapan darinya yang sampai sekarang belum pernah bisa saya simpulkan. Mungkinkah ini penjelasan secara tersirat tentang semua rasa tanya saya selama ini ? Apakah ini akhir dari semua kebingungan saya yang tak berhujung ? Saya tak tau apa yang Bumi pikirkan, apa yang Bumi maksudkan ?
Ya Allah, semoga ini semua hanyalah kebetulan yang tak bermakna, saya ingin membuka lembaran baru tanpa torehan cerita walaupun hanya sedikit. Saya ingin benar-benar melupakan semua tanpa terkecuali. Hilangkan semua yang menghambat niatan saya ya Robb. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar