Motivasi


Ingin Menjadi Sang Penerang Dunia

Rabu, 26 Januari 2011

Luwi namanya ( >.< )

tanggal 21 Januari 2011

     Awalnya pada hari itu saya berniat ke daerah "leuwiliang". Daerah yang sangat jauh dari kampus. Saya ke sana bersama dengan teman saya Ami. Kita ke sana tanpa tujuan tempat yang jelas, yang pasti intinya niatan saya ke sana ingin mengambil objek untuk lomba fotografi yang saya ikuti. Dalam perjalanan saya mengamati kondisi dalam perjalanan.Sangat jauh dari suasana perkotaan, tapi hawanya begitu sejuk sekali. Saya dapat berkesimpulan bahwa daerah ini jauh dari yang namanya ramainya peradaban. Hemmm... seperti daerah ini akan cocok untuk menjadi objek foto saya. Tapi, saya masih bingung, saya akan ambil objek apa dan di mana lebih tepatnya ????? --'
     Akhirnya turunlah kita di daerah leuwilang. Daeraah yang paling ujung, dan tempat berhentinya angkot. Ketika turun, kita bingung, mau ke mana kita ? Ini daerah yang sangat asing untuk kita. Kita memutuskan untuk ke SLB Tunas Kasih 1. SLB yang kita lihat dalam perjalan. Kebetulan SLB itu memang daerahh sekitar situ. Berjalanlah kita, tanpa tau tempatnya di mana. Eh ternyata tempatnya jauh. Akhirnya kita naik kendaraan umum untuk menuju ke sana. Setelah sampai SLB, kita langsung masuk. Di situ kita jelaskan, apa tujuan kita ke sana ? Berharap bisa mengambil foto kegiatan anak SLB. Tapi ternyata gagal total karena anak-anak SLB sudah pulang dan kita tidak diijinin karena kita tak punya surat pengantar. Yahhh,,, gi mana nih. Ibu yang lagi mengobrol ke kita menjelaskan panjang lebar kalau kita mau mengambil dokumentasi harus ada surat pengantar. Sedangkan kita sama sekali tidk membawa surat pengantar, lagi pula ide saya ke SLB adalah ide dadakan, gi mana caranya saya pakai surat pengantar ???? Ya sudahlah... ini emang takdir yah ???? Mungkin masih ada jalan lain, pikirku.....
     Kita pulang dengan tangan hampa. Tanpa sebuah jepertean foto. Hufftttt....

Kita balik ke pangkalan angkot yang akan mengantarkan kita kembali ke kampus. Tapi di tengah perjalanan, saya melihat ada penjual kelinci. Kelincinya imutt banget dan masih kecil. Kata abang yang jual sih, umur 2 bulanan. Akhirnya saya membeli kelinci berwarna coklat bersembur warna hitam berjenis kelamin betina. Dalam perjalanan pulang kita memikir dan menimbang- nimbang, siapa ya namanya ???? Akhirnya tercetuslah nama "leuwiliang". Itu usulan nama teman saya , Ami. Trus nama panggilannya siapa dong ???? Luwi aja namanya.....


Kita memberi nama itu karena kita beli kelinci itu di Leuwiliang.....


      Saya pulang tanpa tangan hampa dan sekaligus kelinci ini adalah hewan peliharaan pertama yang saya miliki..... >.<

Minggu, 23 Januari 2011

Saya tak tau apa ini maksudnya. Janganlah kau buat aku menerka-nerka ketidakpastian

Sabtu, 15 Januari 2011

     Hari itu saya daftar paket 1000 SMS pada handphone kodok saya. Saya sengaja mendaftar paket 1000 SMS karena saat itu saya lagi ada keperluan SMS banyak pada teman-teman saya. Tiba-tiba saya terpikir untuk SMS dia, sebut aja Bumi namanya. Bumi teman semasa SMA saya di Sidoarjo. Saya berniat SMS dia karena untuk memastikan janji untuk jalan-jalan bareng dalam rangka menghibur teman saya, Bulan. Bulan adalah teman saya yang hampir satu bulan, ayahnya telah menghadap sang Khalid. Saya kirim SMS pertama saya ke Bumi. “Jadi kan buat jalan-jalan bareng ma Bulan ?” Selang beberapa menit Bumi membalas SMS saya. “Aku ngga janji, mendingan kamu saja yang pergi ma Bulan, kan lebih enak kalau cewe sama cewe”. Saya balas SMS nya, “Oh yauda berarti cuma aku ma Bulan. Lagian aku juga kangen ma Bulan, uda lama ngga pernah ketemu ma dia.” Kemudian saya mencoba untuk mebuka topik bahasan baru. Saya mencoba untuk menanyakan kembali omongan dia ketika kami masih kelas 2 SMA. Ketika kelas 2 SMA saya mengalami konflik dengan sahabat saya. Saat itu menjelang hari ulang tahun saya ke-17. Saya mengatakan, “Yah,,, ulang tahun saya yang ke-17 tahun, terancam ngga bakalan dapat boneka sapi”. Karena hanya orang tua dan sahabat saya yang sedang konflik yang memberi kado berupa boneka sapi untuk saya. Entah itu hanya bercanda atau serius, Bumi berkata “Tenang aja, ntar saat kamu ulang tahun yang ke-17 ada boneka sapi besar untuk kamu dari aku”. Saya menanggapi hanya bercandaan sambil berharap juga. Siapa tau apa yang dikatakan Bumi serius. Tapi sayangnya, yang dikatakan dahulu hanya bercandaan. Dia tidak memberi kado untuk saya apalagi boneka sapi besar untuk saya. Bumi aku boleh nagih janji ma kamu ga ? Dia bertanya, Emang janji yang mana ? Aku emang pernah janji ma kamu ? Dengan detail saya bercerita panjang lebar lewat SMS. Dia hanya menjawab, Emang aku pernah ngomong kaya begitu. Dalam hati saya jengkel tapi tidak juga menyalahkannya. Wajar kalu dia lupa. Toh itu kejadian beberapa tahun lalu. Saya hanya menjawab, kayaknya aku salah dengar saat itu, mungkin saat itu suaranya setan. Dia menjawab, iya setannya aku ya ? Saya menjawab, terserah deh kamu ngomong apa, kamu itu buka setan tapi dajjal. Dia menjawab, kalau aku jadi dajjal orang yang pertama kali aku takutin adalah kamu. Aku menjawab, Takutin aja, ada pangeran yang bakalan ngelindungi aku. Hahahaahh.
Kemudian topik kita berganti. Membahas inilah, itulah, sampai ngelantur ke mana. Kemudian SMS kami terhenti agak lama. Kemudian saya menyambung kembali SMS kembali. Gi mana perpusdanya ? Uda jadi belum ? Baru beberapa detik, ada SMS masuk dari dia. Cepet banget balas SMS nya, batin saya. Setelah saya buka, saya begitu bingung, kaget, syok, apa maksudnya dari SMS ini. SMS yang ternyata bukan balasan dari SMS saya sebelumnya. Sepertinya, ketika saya mengetik SMS masalah perpusda, dia juga sedang mengetik SMS. Seperti ini SMS nya :
“Suatu saat dia, akan tau. Siapa yang kalah, siapa yang menang. Siapa yang berhak benar dan siapa yang dipersalahkan. Suatu saat dia akan benar2 tau ketika semuanya telah terlambat, aku bukan lagi urusannya, dan dia bukan lagi urusanku. Dan suatu saat dia akan mengalami kesepian saat ditinggal pergi. Suatu saat. . .”
Otak saya berpikir keras untuk mencerna SMS darinya. Kemudian saya menjawab, maksudnya apa ? SMS nya buat *** ? Dia menjawab, aku paling ngga suka kamu ngungkit dia lagi. Saya menjawab, Emang SMS nya buat sapa ? Kamu kirim ke siapa saja selain aku ? Dia hanya menjawab “Itu ungkapan hatiku. Untuk siapa aja. To every one, that ever hurt me even just a little bit”. Saya menjawab dengan rasa kebingungan yang tak berujung, berarti aku pernah menyakitimu. Maafkan aku kalau aku pernah nyakitin kamu, dengan memberi emotion :D. Dia menjawab , “I just want you to know. . . What makes my heart fells like that. Deep inside. Kalau kamu nyakitin aku udah biasa ko. Hahaha. Becanda”
Saya semakin bingung dibuat oleh SMS Bumi. Semakin saya banyak mengulang membaca SMS darinya. Otak saya berpikir dan berkelana ke mana-mana, kembali ke masa lalu, ungkapan darinya yang sampai sekarang belum pernah bisa saya simpulkan. Mungkinkah ini penjelasan secara tersirat tentang semua rasa tanya saya selama ini ? Apakah ini akhir dari semua kebingungan saya yang tak berhujung ? Saya tak tau apa yang Bumi pikirkan, apa yang Bumi maksudkan ?

Ya Allah, semoga ini semua hanyalah kebetulan yang tak bermakna, saya ingin membuka lembaran baru tanpa torehan cerita walaupun hanya sedikit. Saya ingin benar-benar melupakan semua tanpa terkecuali. Hilangkan semua yang menghambat niatan saya ya Robb. Amin.

Pertama kalinya aku tertipu dengan cara yang seperti ini


Jum’at, 14 Januari 2011

     Kebetulan saat itu, saya lagi ada waktu luang di saat teman-teman sekamar saya lagi ujian. Saya bersyukur, setidaknya ada satu hari kosong untuk melepas penat kala kejenuhan menghadang. Pergilah saya  ke tempat wifi an di asramaku tercinta. Kalau ingin bisa wifi an, kita sebagai anak asrama harus rela turun ke bawah (di daerah sekira BPA atau Badan Pengurus Asrama) untuk mendapatkan sinyal wifi. Saya sengaja duduk di tempat duduk depan kantor satpam karena nyaman. Pada saat itu, saya melakukan hobi saya, yakni mencari info-info lomba, entah itu lomba esai, karya tulis, ataupun fotografi. Sejak menjadi seorang mahasiswi saya mulai tertarik dengan dunia fotografi karena bagi saya dengan seni fotografi kita bisa mengekspresikan hati kita dan bisa menjadikan suatu objek sebagai kenangan di masa depan kelak. Yah lumayan jika hobi itu dijadikan sebagai agen untuk menambah uang jajan bulanan. Heheheee...
     Telah terkumpulkan semua informasi, pilah-pilah mana yang sekiranya bisa saya lakukan dan peluang besar untuk memenangi lomba tersebut. Dalam jiwa saya berpegang teguh, seorang mahasiswa tidak hanya berbekal intelektual tapi harus punya kreativitas. Kreativitas lah yang insyaALLAH akan membawa saya dalam kesuksesan. Amin ya Robb. Sekitar menjelang waktu dhuhur, handphone kodok saya berdering. Handphone warisan dari ayah tercinta. Handphone butut yang sangat saya cintai. Dalam hati bertanya, nomor siapa ya ini ? Ko ga ada di phonebook ? Tanpa pikir panjang langsung aja saya angkat panggilan dari nomor asing itu. Suara orang laki-laki terdengar formal sekali. Suara bapak-bapak yang terpikir dalam sekelebat pikir saya Bapak itu bertanya, dengan siapa saya berbicara ? Pikir saya, Lho ko tanya ? Bukannya situ yang telepon, ko tanya dengan siapa saya ngomong ? Curiga pun langsung terbesit di otak. Dengan nada standar, saya menyebutkan nama saya. Bapak itu berkata kembali, mendikte atau lebih tepatnya menyebut sebuah nomor, yang itu adalah nomor handphone saya. Langsung saya bilang saja, iya itu nomor saya, emang ada apa ? Kebetulan sekali, anda adalah pemenang undian berhadiah dari operator***. Seketika saya langsung bisa mengambil kesimpulan, Oh ternyata bapak penipu ulung pasti. Ketika saya berkesimpulan seperti itu, saya langsung berkata-kata dengan nada malas dan tidak percaya. Bapak itu bilang konon undian berhadiah itu berhadiah uang tunai sebesar 9 juta dan 1 juta berupa pulsa. Saya dengan nada kesal menjawab. Oh undian berhadiah ya Pak ?
Tapi entah mengapa semakin lama saya ngobrol dengan orang yang ngga jelas sama sekali. Otak saya seperti kena hipnotis. Saya langsung percaya. Ketika otak saya terhipnotis ataupun kenapa, saya langsung menuruti kata-katanya dengan keadaan sadar ataupun tidak, saya juga tidak tau. Pergilah saya ke Bank karena Bapak itu menyuruh saya untuk mengecek uang melalui ATM. Pergilah saya ke Bank *** dengan keadaan saya masih berkontak telepon dengan bapak itu, kebetulan dekat dengan kampus saya. Di ATM, saya langsung mematuhi perintah orang itu. Pertama masukkan ATM, masukkan PIN ATM, lalu pilih menu lain, pilih transfer pulsa. Kemudian suara bapak di ujung sana mendikte saya sederet nomor. Dengan polosnya saya bertanya balik, Bapak ko nomornya seperti nomor handphone yah ? Bapak itu menjawab itu nomor undian berhadiahnya. Dengan bodohnya, saya percaya begitu saja. Bapak itu menyuruh saya untuk memilih nominal 500.000. Saya pencet nominal 500.000 tanpa bertanya.
Untunglah, Allah masih menyayangi saya. Keberuntungan masih berpihak pada saya. Setelah saya memencet, di layar ATM muncul, maaf anda tidak bisa melakukan transfer pulsa karena saldo tidak mencukupi. Begitu melihat itu, saya langsung sadar oleh kebodohan saya. Astaghfirulloh, saya hampir tertipu oleh bapak penitu via ATM. Segeralah saya keluar dari tempat ATM. Bapak itu masih mengajak ngobrol saya, Bapak itu masih kekeh untuk menipu saya dengan metode lain. Maaf mbak, apakah mbak tidak punya ATM lagi ? Bapak itu berkata jika ATM saya tidak bisa menerima hadiah itu karena ATM saya di bawah naungan kampus. Dengan nada agak meninggi saya menjawab. Saya pikir alasan Bapak tidak logis, saya rasa ATM saya sama seperti yang lain hanya bedanya ini ATM untuk mahasiwa. Bapak itu masih saja berkata dengan nada seperti memaksa, Apakah mbak tidak punya teman yang bisa meminjamkan ATM nya untuk menerima hadiahnya ? Karena jengkelnya saya. Dengan lantang saya menjawab, Bapak, temannya saya sedang ujian, apakah saya harus mengganggu mereka ketika ujian, dipikr dong pak ? Alasan Bapak itu tidak masuk akal. Bapak penipu kan ? Dengan suaranya yang berlagak seperti suara operator, tetap saja tak mau ngaku., dan masih berbicara dengan nada seperti operator... Yang namanya maling tidak mau mengaku juga.
Saya sangat jengkel dengan kejadian itu, tapi saya tersenyum-senyum ketika balik ke asrama. Ko bisa ya saya tertipu oleh begituan ? Untung saya saat itu hanya membawa KTM yang sekaligus bisa jadi ATM. Dan uang di dalam KTM saya hanya 25000 tidak nyampai. Alhamdulillah ya Allah Engkau masih menyelamatkan dari syaiton-syaiton yang menjelma jadi manusia. Sesampai di kamar saya langsung cerita tentang hal itu, karena kebetulan mereka sudah selesai ujian. Semua teman sekamar langsung terbahak-bahak mendengar cerita saya. Semua pada berkomentar. Ko bisa tertipu sih ? Emang ngga dilihat nomornya ?
Seusai bercerita, cerita yang menjengkelkan dan lucu. Saya langsung coba telepon balik nomor Bapak itu. Tapi sayangnya, nomor yang Anda tuju, sedang sibuk. Saya SMS nomor Bapak itu.
SMS nya seperti ini
“Assalamu’alaikum. Bapak penipu via ATM yang terhormat. Selamat ya telah tidak berhasil menipu saya. Saya ini seorang mahasiswi berprestasi tidak mungkin tertipu oleh penipu ulung seperti Bapak. Saya tidak akan melapor pada polisi,. Terima kasih telah berniat menipu saya. Saya mengucapkan selamat berjuang kembali di jalan yang sesat ya Pak”
Saya baca kembali SMS itu, senyum-senyum sendiri saya membaca SMS yang saya ketik.

Pesan untuk semua orang :

Jangan sampai teripu seperti saya yah :D