Jum’at, 14 Januari 2011
Kebetulan saat itu, saya lagi ada waktu luang di saat teman-teman sekamar saya lagi ujian. Saya bersyukur, setidaknya ada satu hari kosong untuk melepas penat kala kejenuhan menghadang. Pergilah saya ke tempat wifi an di asramaku tercinta. Kalau ingin bisa wifi an, kita sebagai anak asrama harus rela turun ke bawah (di daerah sekira BPA atau Badan Pengurus Asrama) untuk mendapatkan sinyal wifi. Saya sengaja duduk di tempat duduk depan kantor satpam karena nyaman. Pada saat itu, saya melakukan hobi saya, yakni mencari info-info lomba, entah itu lomba esai, karya tulis, ataupun fotografi. Sejak menjadi seorang mahasiswi saya mulai tertarik dengan dunia fotografi karena bagi saya dengan seni fotografi kita bisa mengekspresikan hati kita dan bisa menjadikan suatu objek sebagai kenangan di masa depan kelak. Yah lumayan jika hobi itu dijadikan sebagai agen untuk menambah uang jajan bulanan. Heheheee...
Telah terkumpulkan semua informasi, pilah-pilah mana yang sekiranya bisa saya lakukan dan peluang besar untuk memenangi lomba tersebut. Dalam jiwa saya berpegang teguh, seorang mahasiswa tidak hanya berbekal intelektual tapi harus punya kreativitas. Kreativitas lah yang insyaALLAH akan membawa saya dalam kesuksesan. Amin ya Robb. Sekitar menjelang waktu dhuhur, handphone kodok saya berdering. Handphone warisan dari ayah tercinta. Handphone butut yang sangat saya cintai. Dalam hati bertanya, nomor siapa ya ini ? Ko ga ada di phonebook ? Tanpa pikir panjang langsung aja saya angkat panggilan dari nomor asing itu. Suara orang laki-laki terdengar formal sekali. Suara bapak-bapak yang terpikir dalam sekelebat pikir saya Bapak itu bertanya, dengan siapa saya berbicara ? Pikir saya, Lho ko tanya ? Bukannya situ yang telepon, ko tanya dengan siapa saya ngomong ? Curiga pun langsung terbesit di otak. Dengan nada standar, saya menyebutkan nama saya. Bapak itu berkata kembali, mendikte atau lebih tepatnya menyebut sebuah nomor, yang itu adalah nomor handphone saya. Langsung saya bilang saja, iya itu nomor saya, emang ada apa ? Kebetulan sekali, anda adalah pemenang undian berhadiah dari operator***. Seketika saya langsung bisa mengambil kesimpulan, Oh ternyata bapak penipu ulung pasti. Ketika saya berkesimpulan seperti itu, saya langsung berkata-kata dengan nada malas dan tidak percaya. Bapak itu bilang konon undian berhadiah itu berhadiah uang tunai sebesar 9 juta dan 1 juta berupa pulsa. Saya dengan nada kesal menjawab. Oh undian berhadiah ya Pak ?
Tapi entah mengapa semakin lama saya ngobrol dengan orang yang ngga jelas sama sekali. Otak saya seperti kena hipnotis. Saya langsung percaya. Ketika otak saya terhipnotis ataupun kenapa, saya langsung menuruti kata-katanya dengan keadaan sadar ataupun tidak, saya juga tidak tau. Pergilah saya ke Bank karena Bapak itu menyuruh saya untuk mengecek uang melalui ATM. Pergilah saya ke Bank *** dengan keadaan saya masih berkontak telepon dengan bapak itu, kebetulan dekat dengan kampus saya. Di ATM, saya langsung mematuhi perintah orang itu. Pertama masukkan ATM, masukkan PIN ATM, lalu pilih menu lain, pilih transfer pulsa. Kemudian suara bapak di ujung sana mendikte saya sederet nomor. Dengan polosnya saya bertanya balik, Bapak ko nomornya seperti nomor handphone yah ? Bapak itu menjawab itu nomor undian berhadiahnya. Dengan bodohnya, saya percaya begitu saja. Bapak itu menyuruh saya untuk memilih nominal 500.000. Saya pencet nominal 500.000 tanpa bertanya.
Untunglah, Allah masih menyayangi saya. Keberuntungan masih berpihak pada saya. Setelah saya memencet, di layar ATM muncul, maaf anda tidak bisa melakukan transfer pulsa karena saldo tidak mencukupi. Begitu melihat itu, saya langsung sadar oleh kebodohan saya. Astaghfirulloh, saya hampir tertipu oleh bapak penitu via ATM. Segeralah saya keluar dari tempat ATM. Bapak itu masih mengajak ngobrol saya, Bapak itu masih kekeh untuk menipu saya dengan metode lain. Maaf mbak, apakah mbak tidak punya ATM lagi ? Bapak itu berkata jika ATM saya tidak bisa menerima hadiah itu karena ATM saya di bawah naungan kampus. Dengan nada agak meninggi saya menjawab. Saya pikir alasan Bapak tidak logis, saya rasa ATM saya sama seperti yang lain hanya bedanya ini ATM untuk mahasiwa. Bapak itu masih saja berkata dengan nada seperti memaksa, Apakah mbak tidak punya teman yang bisa meminjamkan ATM nya untuk menerima hadiahnya ? Karena jengkelnya saya. Dengan lantang saya menjawab, Bapak, temannya saya sedang ujian, apakah saya harus mengganggu mereka ketika ujian, dipikr dong pak ? Alasan Bapak itu tidak masuk akal. Bapak penipu kan ? Dengan suaranya yang berlagak seperti suara operator, tetap saja tak mau ngaku., dan masih berbicara dengan nada seperti operator... Yang namanya maling tidak mau mengaku juga.
Saya sangat jengkel dengan kejadian itu, tapi saya tersenyum-senyum ketika balik ke asrama. Ko bisa ya saya tertipu oleh begituan ? Untung saya saat itu hanya membawa KTM yang sekaligus bisa jadi ATM. Dan uang di dalam KTM saya hanya 25000 tidak nyampai. Alhamdulillah ya Allah Engkau masih menyelamatkan dari syaiton-syaiton yang menjelma jadi manusia. Sesampai di kamar saya langsung cerita tentang hal itu, karena kebetulan mereka sudah selesai ujian. Semua teman sekamar langsung terbahak-bahak mendengar cerita saya. Semua pada berkomentar. Ko bisa tertipu sih ? Emang ngga dilihat nomornya ?
Seusai bercerita, cerita yang menjengkelkan dan lucu. Saya langsung coba telepon balik nomor Bapak itu. Tapi sayangnya, nomor yang Anda tuju, sedang sibuk. Saya SMS nomor Bapak itu.
SMS nya seperti ini
“Assalamu’alaikum. Bapak penipu via ATM yang terhormat. Selamat ya telah tidak berhasil menipu saya. Saya ini seorang mahasiswi berprestasi tidak mungkin tertipu oleh penipu ulung seperti Bapak. Saya tidak akan melapor pada polisi,. Terima kasih telah berniat menipu saya. Saya mengucapkan selamat berjuang kembali di jalan yang sesat ya Pak”
Saya baca kembali SMS itu, senyum-senyum sendiri saya membaca SMS yang saya ketik.
Pesan untuk semua orang :
Jangan sampai teripu seperti saya yah :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar