Motivasi


Ingin Menjadi Sang Penerang Dunia

Senin, 27 Desember 2010

Seperti Kelamnya Awan di Pagi Buta

     Seperti biasa aku terbangun di pagi hari untuk melaksanakan kewajibanku sebagai hamba Allah. Sebelum aku mengambil wudhu entah mengapa aku ingin membuka handphoneku terlebih dulu karena seharian kemarin handphone aku sengaja matiin. Selang beberapa menit aku buka handphoneku, tiba-tiba muncul sms dari teman SMAku, sebut saja dia "Matahari" dan begitu syok ketika membaca sms darinya. Lafadz Innalillahi Wainnailaihi Rojiun secara spontan terlontar dari bibirku. Aku baca berulang-ulang sms dari Matahari. Otakku berusaha menelaah tulisan di inbox. Aku tak percaya dengan isi dari sms itu. Aku begitu syok ketika membaca sms dari Matahari, sms itu mengatakan jika ayah dari sahabat SMAku meninggal, sebut saja sahabat SMAku bernama "Bulan". Tak tahan menahan gejolak hati, air mata mulai membasahi pipiku. Jatuh dan semakin deras, seperti derasnya hujan di luar jendela. Memang pagi itu sedang hujan deras. Pikirku, mungkin langit tau kalau aku sedang menangis. Buru-buru aku menelepon Matahari untuk memastikan ini semua. Aku takut jika semuanya bukan seperti yang ada di benakku. Berulang-ulang aku menelepon Matahari tapi Matahari tak juga mengangkatnya.
     Semakin panik aku dibuat oleh keadaan yang seperti ini dan aku tidak menyukai keadaan seperti ini. Aku berusaha menenangkan hatiku yang sedang bingung. Tiba-tiba terlintas di otakku untuk menelepon teman SMAku yang sekiranya tau tentang hal ini. Tapi, sayangnya dia juga tidak mengangkat teleponku. "Kenapa sih semua pada ngga bisa dihubungi ?" tanya diriku. Setelah mencoba berkali-kali menelepon Matahari, akhirnya Matahari mengangkat teleponku juga. "Alhamdulillah diangkat teleponku", ucapku. Langsung aku tanyakan kebenaran tentang sms darinya. Matahari mengatakan kenyataan yang tidak aku sukai. Dia membenarkan kabar itu. Sejadi-jadinya aku menangis, lalu aku teringat semua memoriku bersama Bulan ketika SMA. Bulan yang cantik, pintar, dan kritis terhadap suatu hal. Bulan yang selalu bercerita padaku kalau dia ingin menjadi seorang Menteri Pendidikan. Dia ingin mengubah sistem pendidikan di Indonesia yang menurutnya kurang baik. Bulan yang selalu senang bila diajak wisata kuliner daripada nonton di bioskop. "Oh, Bulan bagaimanakah keadaanmu saat ini ?"
     Matahari mengatakan jika ayah Bulan meninggal karena sakit. Meskipun aku tau ini kenyataan, tapi masih saja aku masih belum bisa menerima. Perasaan baru kemarin dia cerita tentang ayahnya. Bulan memang lebih dekat dengannya ayahnya. Aku sempat sebel dengan Bulan, kenapa aku mesti tau berita seperti ini dari Matahari bukan darinya dan sangat telat untuk mengucapkan bela sungkawa karena memang ayahnya meninggal ketika hari Sabtu kemarin tanggal 25 Desember. Matahari pun juga tau mengenai hal ini dari orang lain. Melihat jam yang menunjukkan pukul 04.40, aku teringat belum shalat. Buru-buru aku mengambil wudhu dan shalat. Dalam sujud terakhirku, aku berdoa agar Bulan dan keluarga yang ditinggalkan selalu dalam lindungan Allah dan diberi ketabahan selalu.
     Sekitar pukul 06.40, aku menelepon Bulan. Aku berharap dengan aku meneleponnya beban hatinya sedikit berkurang. Suara Bulan yang berada di ujung sana begitu pelan, Suara yang dulu selalu ceria sekarang menjadi suara seseorang yang tak punya semangat. Mendengar suaranya aku tak kuasa untuk menahan air mataku. Di situ dia bercerita panjang lebar, dia mengatakan jika bulan Desember tahun ini merupakan bulan yang paling berat baginya. Aku hanya bisa mendengar. "Suaranya terdengar begitu lelah ya Allah. Kuatkanlah hatinya, hati sahabatku yang sekarang tak tau di mana"., kata hatiku.  Hanya ibu dan adiknya yang ia miliki.  Ibunya begitu depresi berat dan mengalami guncangan yang berat. Sehingga ibunya sedikit mengalami gangguan mental. Begitu miris aku mendengarnya ya Allah. "Begitu beratkah ujian yang kau berikan padanya ?", tanya hatiku. Aku hanya bisa mengatakan sabar, yang tabah, kamu harus bangun, jangan terus-terusan terpuruk. Aku memang jahat, di saat seperti ini, aku ga bisa nemenin dia di sampingnya karena sekarang aku lagi di Bogor untuk kuliah. Meskipun didera dengan ujian yang bertubi-tubi, dia masih sempat saja memberi candaan kepadaku. Lalu aku dengar tawa kecilnya yang sepertinya berat. 
     Dia juga meminta padaku. Ketika aku liburan kuliah nanti, dia ingin jalan-jalan bersamaku kembali seperti SMA dulu, yakni jalan-jalan ke tambak sedati dan meminta oleh-oleh dari Bogor. "Aku berharap semua kesedihan ini hanya sementara dan Bulan yang dulu bisa bersinar kembali seperti sedia kala. Bersabarlah kebahagiaan akan menantimu"







                                                                                         Teruntuk sahabatku
                                                                               yang selalu dalam naungan Allah

Suasana Menjelang Liburan

     Teman-teman selorongku sudah mulai sibuk mempersiapkan barang bawaannya sebelum pulang kampung ke daerah masing-masing. Aku hanya tersenyum melihat kesibukan mereka. Iya hanya senyum. Senyum terpaksa yang tersungging di bibirku karena aku sedih. Sedih melihat mereka bisa pulang sedangkan aku tidak. Aku memang sengaja tidak pulang karena menurutku liburan kali ini begitu nanggung dan sayang ongkos karena libur hanya 10 hari. Selain liburan yang hanya sebentar, seusai liburan langsung disambut dengan Ujian Akhir Semester (UAS) karena itu aku ingin konsentrasi UAS di asramaku tercinta. Begitu selesai UAS, kita semua disambut dengan liburan panjang (dengar-dengar tiga minggu), dan aku memutuskan untuk pulang setelah UAS.
     Hari Kamis sore ketika aku pulang kuliah. Mataku tertuju pada suasana di depan mataku. Suasana yang membuatku semakin sedih. Banyak para orang tua berdatangan untuk menjemput anaknya. Suara roda tak luput dari pendengaranku. Iya roda koper yang bergelinding. Para mahasiswi yang tak dijemput orang tuanya pun juga bergegas pulang pada sore itu juga sambil membawa kopernya.
     Malam pun menyelimuti sore. Aku bersyukur teman sekamarku masih belum pulang. Tapi sayangnya dia juga harus pulang meskipun keesokan harinya. Dalam hati terbesit "Kalau Dewi pulang aku tidur sendirian dong di kamar. Terus di lorong pasti sepi banget.". Keesokan harinya Dewi pulang ketika pagi-pagi bersama teman SMA nya dan sekarang yang tersisa di kamar "360" hanya aku seorang. Ternyata benar ketika jum'at malam yang tersisa di lorong hanya beberapa orang yang malang, yakni aku, Ayu, Ulfah, Aini, Arini dan Efi....
     Sayangnya ketika hari Minggu Ulfah dan Aini pulang. Ulfah pulang ke Bogor. Sedangkan Aini pulang ke Palembang bersama pacarnya. Aini sengaja pulang bareng dengan pacarnya dan mereka bertemu di Bandara Soekarno-Hatta. Akhirnya yang tersisa hanya empat orang. Sungguh sepi, sunyi, senyap, seperti.... ?????
     Hari-hari kami lewati bersama. Kalau kita mau makan harus dengan "sebuah perjuangan" karena hanya untuk makan kami harus berjalan melewati jalanan yang biasa kami sebut "tanjakan maut". Kami sengaja menamai itu karena ketika melewati jalanan itu begitu capek rasanya. Biasanya yang di lorong asrama meskipun malam selalu tetap ramai, tapi sedangkan sekarang ????? Tak usah ditanya lagi.
      Memang sepi tapi kami masih bisa senang karena dengan suasana seperti ini, "Asrama Seperti Milik Sendiri"