Motivasi


Ingin Menjadi Sang Penerang Dunia

Senin, 27 Desember 2010

Suasana Menjelang Liburan

     Teman-teman selorongku sudah mulai sibuk mempersiapkan barang bawaannya sebelum pulang kampung ke daerah masing-masing. Aku hanya tersenyum melihat kesibukan mereka. Iya hanya senyum. Senyum terpaksa yang tersungging di bibirku karena aku sedih. Sedih melihat mereka bisa pulang sedangkan aku tidak. Aku memang sengaja tidak pulang karena menurutku liburan kali ini begitu nanggung dan sayang ongkos karena libur hanya 10 hari. Selain liburan yang hanya sebentar, seusai liburan langsung disambut dengan Ujian Akhir Semester (UAS) karena itu aku ingin konsentrasi UAS di asramaku tercinta. Begitu selesai UAS, kita semua disambut dengan liburan panjang (dengar-dengar tiga minggu), dan aku memutuskan untuk pulang setelah UAS.
     Hari Kamis sore ketika aku pulang kuliah. Mataku tertuju pada suasana di depan mataku. Suasana yang membuatku semakin sedih. Banyak para orang tua berdatangan untuk menjemput anaknya. Suara roda tak luput dari pendengaranku. Iya roda koper yang bergelinding. Para mahasiswi yang tak dijemput orang tuanya pun juga bergegas pulang pada sore itu juga sambil membawa kopernya.
     Malam pun menyelimuti sore. Aku bersyukur teman sekamarku masih belum pulang. Tapi sayangnya dia juga harus pulang meskipun keesokan harinya. Dalam hati terbesit "Kalau Dewi pulang aku tidur sendirian dong di kamar. Terus di lorong pasti sepi banget.". Keesokan harinya Dewi pulang ketika pagi-pagi bersama teman SMA nya dan sekarang yang tersisa di kamar "360" hanya aku seorang. Ternyata benar ketika jum'at malam yang tersisa di lorong hanya beberapa orang yang malang, yakni aku, Ayu, Ulfah, Aini, Arini dan Efi....
     Sayangnya ketika hari Minggu Ulfah dan Aini pulang. Ulfah pulang ke Bogor. Sedangkan Aini pulang ke Palembang bersama pacarnya. Aini sengaja pulang bareng dengan pacarnya dan mereka bertemu di Bandara Soekarno-Hatta. Akhirnya yang tersisa hanya empat orang. Sungguh sepi, sunyi, senyap, seperti.... ?????
     Hari-hari kami lewati bersama. Kalau kita mau makan harus dengan "sebuah perjuangan" karena hanya untuk makan kami harus berjalan melewati jalanan yang biasa kami sebut "tanjakan maut". Kami sengaja menamai itu karena ketika melewati jalanan itu begitu capek rasanya. Biasanya yang di lorong asrama meskipun malam selalu tetap ramai, tapi sedangkan sekarang ????? Tak usah ditanya lagi.
      Memang sepi tapi kami masih bisa senang karena dengan suasana seperti ini, "Asrama Seperti Milik Sendiri"

2 komentar:

  1. si mbak nit, diceritain detail soal aku baliknya huuu...

    oke deh, selamat ya udah bikin blog. Semangat ya mbak nit buat nulis. Ayo berjuang buat UAS!!!

    visit blog ain ya: ainpunyacerita.blogspot.com

    BalasHapus
  2. hahaaahhaaa
    gapapalah ain
    kan ga sebut merek



    mksud ny visit blog ain itu maksud ny ?
    ak gatau


    okokokok
    ak akan terus menulis kalo sempet
    ckckckckk


    mari bjuang buat uas.
    jgn lupa empek2 ny >.<

    BalasHapus